Tulisan 4
Ø Teori
kepribadian sehat
Allport
Allport
mengakui bahwa masa kanak-kanak mempunyai andil dalam mewujudkan pribadi yang
sehat, hanya saja hubungan itu tidak bersifat fungsional yang berkesinambungan.
Menurut Allport peranan orang tua (ibu) mempengaruhi perkembangan proprium
anak. Jika seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup, perasaan aman, akan
menumbuhkan identitas diri dan diri akan meluas. Demikian pula jika
seorang anak yang dibesarkan dalam kondisi tidak aman, agresif, penuh tuntutan,
egosentris, pertumbuhan psikologisnya berkurang. Sebagai seorang dewasa, orang
itu akan dikontrol oleh dorongan masa kanak – kanak dan oleh keinginan dan
konflik dan mungkin mengembangakan suatu bentuk sakit jiwa. allport memiliki
pandangan yang optimistik mengnai kemanusiaan,dengan mempertahankan pendapat
bahwa manusia mempunyai setidaknya kebebasan yang terbatas.manusia berorientasi
terhadap tujuannya,proaktif,dan termotivasi oleh beragam pendorong,yang
kebanyakan berada di dalam ranah kesadaran.pengalaman awal masa kanak-kanak
mempunyai kepentingan yang relatif minor dan hanya signifikan sampai pada taraf
ketika mereka ada dalam masa sekarang.perbedaan maupun persamaan manusia sangat
penting,tetapi perbedaan individu dan keunikan mendapatkan penekanan yang lebih
besar dalam psikologi allport
Karakteristik Kepribadian yang matag
Menurut Allport
- Memiliki kebutuhan yang terus menerus dan bervariasi
serta menyukai tantangan-tatangan baru.
- Tidak menyukai hal-hal yang rutin dan mencari
pengalaman-pengalaman baru.
- Mengambil risiko, berspekulasidan menyelidiki hal-hal
baru.
- Aktivitas yang menghasilkan ketegangan.
- Melalui tantangan dan pengalaman baru manusia dapat
bertumbuh dan berkembang.
- Pribadi sehat berfungsi secara sadar dan menyadari
sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing dan dapat mengontrol
kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
- Pribadi yang matang tidak dikontrol oleh traumadan
konflik mas kanak-kanak.
- Kebahagiaanbukan suatu tujuan hidup melainkan hasil
dari keberhasilan integrasi kepribadian dalam mengejar inspirasi dan
tujuan hidupnya.
- Kepribadian yang sehat “prinsip penguasaan dan
kemampuan” Principle of mastery and competency.
- Proprium “Self” = Setiap pribadu memiliki keunikan masing-masing.
Sumber :
hall.S.C,lindzey.G(1993).psikologi kepribadian 2. Yogyakarta: kanisius
Ø Perkembangan kepribadian
Orang yang sehat menurut Rogers
adalah orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi
diri terjadi berkesinambungan, tidak statis. Aktualisasi diri adalah suatu
proses yang sulit dan terkadang menyakitkan. Berkembangnya konsep diri yang
sehat tergantung dari pengalman masa kecil anak akan pnerimaan dan cinta kasih
(ibu).
Terdapat
tiga gambaran umum aktualisasi diri
1. Aktualisasi diri bukanlah
merupakan keadaan yang menetap, melainkan suatu proses yang kontinu.
2. Aktualisasi
diri merupakan proses yang sukar bahkan terkadang menyakitkan sehingga
diperlukan keberanian untuk menjalaninya. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang
yang mengaktualisasikan diri tidaklah berbahagia di setiap masanya. Kebahagiaan
itu akan timbul sebagai efek dari aktualisasi diri ini.
3. Orang yang
mengaktualisasikan diri adalah benar-benar diri mereka sendiri dan tidak
bersembunyi di balik topeng ataupun menyembunyikan sebagian dari dirinya.
b) Di samping
ketiga hal umum tersebut, lima tanda-tanda orang yang melakukan aktualisasi
diri adalah sebagai berikut:
1. Terbuka pada
pengalaman
Orang yang tidak mengembangkan
penghargaan positif bersyarat akan mengembangkan sikap yang terbuka pada
pengalaman. Pengalaman tidak hanya diterima namun juga dimanfaatkan untuk
mengembangkan persepsi dan ungkapan baru. Saat mengalami pengalaman, orang yang
demikian lebih mengalami emosi yang lebih kuat, baik emosi positif maupun
negatif, dibanding orang yang defensif.
2. Kehidupan
eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya,
aktualisasi diri, akan hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan karena ia
terbuka pada setiap pengalaman. Ia tidak akan beperasangka dan mudah
menyesuaikan diri terhadap pengalaman sehingga tidak harus memanipulasi apa
yang dialaminya. Menurut Rogers, kehidupan eksistensial ini merupakan ciri
terpenting kepribadian yang melakukan aktualisasi diri/keperibadian yang sehat.
3. Kepercayaan
terhadap organisme orang sendiri
Orang yang mengaktualisasikan diri
akan terbuka pada pengalaman sehingga ia menerima semua informasi yang ada,
bahkan dari segi selain pikirannya. Organismenya secara keseluruhan, baik sadar
dan tak sadar, faktor emosional maupun intelektual, akan menyerap semua
informasi yang diterima. Hal ini menjadikannya dalam membuat keputusan dapat
mempercayai organismenya sendiri, intuisinya, impuls-impuls yang timbul
seketika. Ia menjadi spontan namun tidak terburu-buru (tidak mempertimbangkan
konsekuensi tindakan). Ia percaya dirinya sendiri.
4. Persaaan
bebas
Orang yang sehat dapat memilih
dengan bebas dapat memilih dengan bebas tanpa rintangan atau paksaan antara
alternatif pikiran dan tindakan. Ia memiliki perasaan berkuasa secara peribadi
mengenai kehidupan. Karena merasa bebas dan berkuasa, ia menjadi mampu melihat
banyaknya pilihan dalam kehidupan dan mampu melakukan pilihan-pilihan tersebut
sesuai kehendaknya.
5. Kreativitas
Dengan ciri-ciri di atas membawa akibat
yaitu orang yang sehat adalah orang yang kreatif. Kreativitas dan spontanitas
orang yang mengaktualisasikan diri menjadikannya pantas untuk menjadi barisan
depan dalam proses evolusi manusia.
a) Menurut rogers manusia yang
rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa pada masa
kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau mempengaruhi cara bagaimana kita
memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan
psikologis kita.
b) Positive
Regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan dimiliki semua orang. Semua anak
terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan
menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan yang ini. Anak puas kalau dia
menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang lain, tetapi ia akan
kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang.
c) Self concept
yang berkembang dari anak itu sangat dipengaruhu oleh ibu. Namun jika si-ibu
tidak memberikan positive regard kepada anak, anak akan menjadi peka
terhadap suatu tanda penolakan. Dalam hal ini anak mengharapkan bimbingan dan
tingkah lakunya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena ia telah
merasa kecewa, maka kebutuhan positive regard sekarang bertambah kuat,
anak bekerja keras untuk positive regard dengan mengorbankan aktualisasi
diri.
d) Kasih
sayang yang diterima anak adalah syarat tingkah laku yang baik. Karna ia
mengembangkan conditional positive regard maka ia menginternalisasikan
sikap-sikap ibu dan menerapkannya pada dirinya sendiri. Dalam keadan ini
berarti bahwa anak itu merasa suatu perasaan harga dirinya dalam syarat-syarat
tertentu.
e) Syarat utama
timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan “penghargaan positif tanpa
syarat” (unconditional positive regard) pada masa kecil. Hal ini
berkenbang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan
anak bertingkah laku. Cinta yang diberikan debgan bebas ini bagi anak itu
menjadi sekumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan.
f) Unconditional
positive regard tidak menghendaki bahwa semua pengekangan terhadap
tingkah laku anak tidak ada; tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan
apa saja yang diinginkan tanpa dinasihati.
Sumber : Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yokyakarta
: KANISUS
Ø Hirarki kebutuhan
Menurut Maslow, setiap individu
memiliki potensi untuk berkembang (Personal growth). Dalam menjelaskan
kebutuhan manusia, Maslow membntuk hirarki kebutuhan menjadi:
1. Kebutuhan
Fisiologis
2. Kebutuhan Rasa
aman
3. Kebutuhan Kasih
sayang
4. Kebutuhan
Penghargaan
5. Aktualisasi
Diri
Kepribadian normal ditandai oleh
unitas, integrasi, konsistensi, dan koherensi. Organisasi adalah keadaan
normal, dan disorganisasi berarti patologik.
·
Organisme memiliki satu drive yang berkuasa, yaki aktualisasi diri (self
actualization). Orang berjuang tanpa henti (continuous) untuk merealisasi
potensi inheren yang dimilikinya pada ranah mana pun ynag terbuka baginya.
·
Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal.
Potensi organisme, jika bisa terkuak di lingkungan yang tepat, akan
menghasilkan kepribadian yang sehat dan integral.
·
Kebutuhan dasar disebut deficiency need. Karena kegagalan untuk memuaskan
kebutuhan dasar mengakibatkan individu merasakan kekurangan sesuatu.
·
Kebutuhan meta disebut being need. Karena kebutuhan memberikan sumbangan yang
lebih besar untuk tumbuh dan berkembang, dalam bentuk kesehatan yang lebih
baik, usia panjang, dan memperluas efisiensi biologis.
·
Perbedaan kepuasan antara kebutuhan dasar dengan kebutuhan meta: kebutuhan yang
lebih rendah hanya menghasilkan kepuasan biologis. Sedangkan kebutuhan yang
lebih tinggi memberi kepuasan biologis dan psikologis karena menghasilkan
kebahagiaan yang mendalam, kedamaian jiwa, dan kebutuhan kehidupan batin.
·
Kebutuhan yang lebih tinggi bersifat lebih kompleks, maksudnya kepuasan pada
kebutuhan yang lebih tinggi melibatkan lebih banyak persyaratan dan lebih
kompleks dibanding kepuasan pada tingkat yang lebih rendah. Misalnya, usaha
memperoleh aktualisasi diri memerlukan prasyarat: semua kebutuhan sebelumnya
telah dipuaskan dan melibatkan tingkah laku yang lebih rumit dan canggih
dibanding usaha mendapat makanan.
·
Kebutuhan fisiologis bersifat homeostatis maksudnya, umumnya kebutuhan
fisiologis bersifat homeostatik (usaha menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik)
seperti makan, minum, serta kebutuhan istirahat dan seks. Kebutuhan fisiologis
ini sangat kuat, dalam keadaan absolut, semua kebutuhan lain ditinggalkan dan
orang mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini.
·
Kegagalan memenuhi kebutuhan ditunjuk sebagai penyebab utama psikopatologi,
karena pengalaman kasih sayang anak-anak menjadi dasar perkembangan kepribadian
yang sehat. Gangguan penyesuaian bukan disebabkan oleh frustasi keinginan
sosial, tetapi lebih karena tidak adanya keintiman psikologik dengan orang
lain.
Ciri-ciri pribadi yang sehat menurut
Abraham maslow:
1. Menerima
realitas secara tepat
Orang-orang yang sangat sehat
mengamati objek-objek dan orang-orang di dunia sekitarnya secara objektif,
teliti terhadap arang lain, mampu menemukan dengan cepat penipuan dan
ketidakjujuran. Mereka bersandar semata-mata pada keputusan dan persepsi mereka
sendiri serta tidak terdapat pandangan-pandangan yang berat sebelah atau
prasangka-prasangka.
2. Menerima
diri dan orang lain apa adanya
Orang-orang yang mengaktualisasikan
diri menerima diri mereka. Kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatan mereka
tanpa keluhan atas kesusahan. Sesungguhnya, mereka tidak terlampau banyak
memikirkannya. Meskipun individu-individu yang sangat sehat ini memiliki
kelemahan–kelemahan atau cacat-cacat, tetapi mereka tidak merasa malu atau
merasa bersalah terhadap hal-hal tersebut. Karena orang-orang sehat ini begitu
menerima kodrat mereka, maka mereka tidak harus mengubah atau memlsukan diri
mereka. Mereka santai dan puas denagn diri mereka dan penerimaan ini berlaku
bagi semua tingkat kehidupan.
Sebaliknya, orang-orang neurotis
dilumpuhkan oleh persaan malu atau perasaan salah atas kelemahan-kelemahan dan
kekurangan-kekurangan mereka, begitu di hantui sehingga mereka mengalihkan
waktu dan energi dari hal-hal yang lebih konstuktif.
3. Bertidak
secara spontan dan alamiah, tidak dibuat-buat
Pengaktualisasian diri bertingkah
laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura. Kita dapat mengatakan
bahwa orang-orang ini bertingkah laku secara kodrati yakni sesuai dengan kodrat
mereka.
Dalam situasi dimana ungkapan perasaan
yang wajar dan jujur dapat menyakitkan orang lain, atau dimana hal tersebut
tidak penting, maka untuk sementara mereka mengekang persaaan-perasaan itu.
Jadi, mereka tidak sengaja menjadi tidak konvensional atau memberontak, mereka
tidak mau mencari kesenangan dalam mencemoohkan dengan sengaja aturan-aturan
dan adapt-adat social. Akan tetapi dalam situasi di mana menaruh hormat kepada
kebiasaan social mengganggu apa yang dianggap penting oleh orang-orang yang
sehat, mereka tidak ragu menentang kebiasaan tersebut. Lagi pula mereka sendiri
adalah wajar dan sederhana, merasa yakin dan aman, serta tidak konvensioanal
dengan tidak bersikap agresif dan memberontak.
4. Memusatkan
pada masalah-masalah bukan pada perseorangan
Orang yang mengaktualisasikan diri
mencintai pekerjaan mereka dan berpendapat bahwq pekerjaan itu tentu saja cocok
untuk mereka. Pekerjaan mereka adalah sesuatu yang ingin mereka lakukan; tentu,
sesuatu yang harus mereka lakuakn tidak semata-mata suatu pekerjaan untuk
mendapat penghasilan.
.
5. Memiliki
kekuasaan dan tidak bergantung pada orang lain
Orang-orang yang mengaktualisasikan
diri memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk pemisahan dan kesunyian. Mereka
tidak tergantung pada orang-orang lain untuyk kepuasan mereka dan dengan demikian
mungkin mereka menjauhkan diri dan tidak ramah. Tingkah laku dan perasaan meeka
sangatt egosentris dan terarah kepada dir mereka sendiri.
Sebaliknya, orang-orang neuorotis
biasanya snagat emosional tergantung pada orang-orang lain untuk kepuasan dimana
mereka tidak mampu menghasilkan untuk diri mereka.
6. Memiliki
ruang untuk diri pribadi
Pengaktualisasian diri untuk
berfungsi secara otonom terhadap lingkungan social dan fisik.
Kepribadian-kepribadian yang sehat dapat berdiri sendiri dan tingkat otonomi
mereka yang tinggi menaklukan mereka, agak tidak mempan terhadap krisis atau
kerugian. Kemalangan-kemalangan yang dapat mengahncurkan orang-orang yang sehat
mungkin hamper tidak dirasakan oleh mereka. Mereka mempertahankan suatu
ketenangan dasar di tengah apa yang dilihat oleh orang-orang yang kurang sehay
sebagai malapetaka.
7. Menghargai
dan terbuka akan pengalaman-pengalaman dan kehidupan baru
Menghargai pengalaman-pemgalaman
tertentu bagaimanapun seringnya pengalaman itu terulang, dengan suatu perasaan
kenikmatan yang segar, perasaan terpesona dan kagum. Suatu pandangan yang bagus
atau menyegarkan terhadap dorongan setiap hari untuk bekerja. Sebagai
akibatnya, mereka merasa kurang pasti, tetapi senantiasa berterima kasih
terhadap apa yang mereka miliki dan dapat mereka alami.
8. Memiliki
pengalaman-pengalaman yang memuncak
Dimana orang-orang yang
mengaktualisasikan diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasaan terpesona yang
hebat dan meluap-luap, sama seperti pengalaman-pengalaman keagamaan yang
mendalam.
Maslow menunjukan bahwa tidak semua
pengalaman puncak itu sangat kuat; dapat juga ada pengalaman- pengalaman yang
ringan. Pengalaman- pengalaman yang ringan ini kadang- kadang dapat terjadi
pada kita semua. Akan tetapi individu yang lebih sehat memiliki
pengalaman-pengalaman puncak lebih sering dari pada orang- orang biasa, dan
mungkin sering kali terjadi setiap hari.
9. Memiliki
identitas sosial dan minat sosial yang kuat
Pengaktualisasian diri memiliki
perasaan empati dan afeksi yang sangat kuat dan dalam terhadap semua manusia,
juga suatu keinginan untuk membantu kemanusiaan.. Mereka adalah anggota dari
satu keluarga (manusia) dan memiliki suatu perasaan persaudaraan dengan setiap
anggota lain dalam keluarga.
Orang- orang yang sehat mengetahui
bahwa mereka dapat mencapai hal- hal dengan lebih baik daripada orang-orang
lain dan bahwa mereka melihat dan memahamii hal- hal itu dengan lebih
jelas.mereka mungkin kerapkali merasa tertekan atau marah karena tingkah laku
orang- orang lain yang bodoh, lemah, atau kasar tetapi mereka cepat memahami
dan memaafkannya.
10. Memiliki relasi yang
akrab dengan beberapa teman
Mampu mengadakan hubungan yang lebih
kuat dengan orang- orang lain daripada orang- orang yang memiliki kesehatan
jiwa yang biasa.mereka memiliki cinta yang lebih besar dan persahabatan yang
lebih dalam, dan identifikasi yang lebih sempurna dengan individu-individu
lain.
Meskipun orang- orang yang akrab
dengan mereka adalah kecil, namun aktualisasi diri berbudi baik dan sabar
terhadap orang- orang lain, khusunya terhadap anak- anak.mereka membenci dan
kejam terhadap orang yang kritis, congkak atau sombong.
Cinta mereka bukan cinta yang egoistic, dimana membari cinta sekurang- kurangnya sama pentingnya dengan menerima cinta dimana perhatian seseorang terhadap pertumbuhan dan perkembangan orang lain adalah sebanyak perhatian terhadap pertumbuhan diri sendiri.
Cinta mereka bukan cinta yang egoistic, dimana membari cinta sekurang- kurangnya sama pentingnya dengan menerima cinta dimana perhatian seseorang terhadap pertumbuhan dan perkembangan orang lain adalah sebanyak perhatian terhadap pertumbuhan diri sendiri.
11. Mengarah pada
nilai-nilai demokratis
Orang yang sehat membiarkan dan
menerima semua orang tanpa memperhatkan kelas social, tingkat pendidikan,
golongan politik atau agama, ras, atau warna kulit.mereka sangat siap
mendengarkan atau belajar dari dari siapa saja yang dapat mengajarkan sesuatu
kepada mereka.
12. Memiliki nilai-nilai
moral yang tangguh
Dapat membedakan dengan jelas antara
sarana dan tujuan. Bagi mereka, tujuan atau cita- cita jauh lebih penting
daripada sarana untuk mencapainya.mereka juga sanggup membedakan antara baik
dan buruk, benar dan salah. Orang yang kurang sehat kerapkali bingung atau
tidak konsisten dalam hal- hal etis, terombang- ambing, atu berganti-ganti
antara benar dan salah menurut keuntungannya.
13. Memiliki rasa humor
yang tinggi
Orang-orang yang kurang sehat
menertawakan 3 macam humor, humor permusuhan yang menyebabkan seseorang merasa
sakit, humor superioritas yang mengambil keuntungan dari rasa rendah diri dari
orang lain atau kelompok dan humor pemberontakan terhadap penguasa yang
berhubungan dengan suatu situasi Oedipus atau percakapan cabul. Humor
pengaktualisasi-pengaktualisasi diri bersifat filosofis, humor yang
menertawakan manusia, pada umumnya, tetapi bukan kepada seseorang yang khusus.
Humor ini kerap kali bersifat intruktif, yang dipakai langsung kepada hal yang
dituju dan juga menyimpulkan tertawa
14. Menemukan hal-hal baru,
ide-ide segar, dan kreatif
Kreatifitas merupakan suatu sifat
yang diharapkan seseorang dari pengaktualisasi- pengaktualisaasi diri mereka
adalah asli, inventif, dan inovatif, meskipun tidak selalu dalam pengertian
menghasilkan suatu karya seni. Maka kreatifitas lebih merupakan suatu sikap,
suatu ungkapan kesehatan psikologis dan lebih mengenai cara bagaimana kita
mengamati dan beraksi terhadap dunia dan bukan mengenai hasil-hasil yang sudah
selesai dari suatu karya seni.
15. Memiliki integritas
tinggi yang total
Pengaktualisasi – pengaktualisasi
diri dapat berdiri sendiri atau pun otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh-
pengaruh social, untuk berpikir atau bertindak menurut cara- cara tertentu.
Akan tetapi mereka tidak terus terang menenrang kebudayaan. Daftar
kualitas-kualitas pribadi yang hebat ini mungkin tampaknya seperti suatu
pernyataan yang berlebihan atau karikatur dari kepribadian yang sangat sehat.
Erich Fromm
Fromm melihat kepribadian hanya
sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa
harus di definisikan menurut bagaimna baik nya masyarakat menyesuaikan diri
dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana
baiknya individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Karena itu
kesehatan psikologis tidak begitu banyak merupakan usaha masyarakat. Faktor
kunci ialah bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan-kebutuhan
manusia.
Cirri –ciri kepribadian sehat
1. Hubungan
Fromm percaya bahwa pemuasan
kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat
penting untuk kesehatan psikologis. Ada beberapa cara untuk menemukan hubungan.
Beberapa cara adalah destruktif (tidak sehat), dan cara-cara lainnya
konstruktif (sehat). Seseorang dapat berusaha untuk bersatu dengan dunia dengan
bersikap tunduk kepada orang lain, kepada suatu kelompok, atau kepada sesuatu
yang ideal, seperti Tuhan. Dengan menundukan diri, orang tidak lagi sendirian,
tetapi menjadi milik dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar daripada dirinya
sendiri. Kemungkinan lain seseorang dapat berusaha untuk berhubungan dengan
dunia dengan menguasainya, dengan memaksa orang-orang lain tunduk kepadanya.
Cara yang sehat untuk berhubungan dengan dunia adalah melalui cinta. Cinta
memuaskan kebutuhan akan keamanan dan juga menimbulkan sesuatu perasaan
integritas dan individualitas. Fromm tidak mendefinisikan cinta semata-mata
dalam pengertian erotis, definisinya meliputi cinta orangtua terhadap anak,
cinta kepada diri sendiri, dan dalam pengertian yang lebih luas, solidaritas
dengan semua orang dan mencintai mereka.
2. Trasendensi
Fromm percaya bahwa dalam perbuatan
menciptakan (anak-anak, ide-ide, kesenian, atau barang-barang material) manusia
mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan aksidental, dengan demikian mencapai
suatu perasaan akan maksud dan kebebasan. Menciptakan ialah cara ideal atau
sehat untuk melebihi keadaan binatang yang pasif yang tidak diterima oleh
manusia karena kemampuan pikiran dan daya khayalnya. Tetapi apa yang terjadi
apabila seseorang tidak mampu menjadi kreatif ? kebutuhan akan transendensi
harus dipuaskan apabila tidak dengan suatu cara yang sehat maka dengan suatu
cara yang tidak sehat. Fromm percaya bahwa jalan lain untuk kreativitas ialah
destruktivitas. Destruktivitas , misalnya kreativitas, merupakan suatu
keterlibatan aktif dengan dunia. Inilah satu-satunya pilihan yang dimiliki
seseorang, yakni menciptakan atau membinasakannya, mencintai atau membenci,
tidak ada cara-cara lain untuk mencapai transendensi. Destruktivitas dan
kreativitas keduanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi,
kreativitas merupakan potensi utama dan menyebabkan kesehatan psikologis.
3. Berakar
Cara yang ideal adalah membangun
suatu perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, suatu perasaan
keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan
solidaritas dengan orang-orang lain ini memuaskan kebutuhan untuk berakar,
untuk berkoneksi da berhubungan dengan dunia. Cara yang tidak sehat untuk
berakar ialah dengan memelihara ikatan-ikatan sumbang masa kanak-kanak dengan
ibu. Sedikit banyak, orang yang demikian tidak pernah sanggup meninggalkan
rumah dan terus berpegang teguh pada keamanan ikatan-ikatan keibuan.
Ikatan-ikatan sumbang dapat meluas melampaui hubungan anak-ibu dan memasukan
seluruh kelompok keluarga. Dengan mepertahankan ikatan-ikatan sumbang dalam
setiap tingkat, seseorang menutup pengalaman-pengalaman tertentu dan membatasi
cinta dan solidaritas hanya untuk beberapa manusia. Situasi ini tidak membiarkan
perhatian, pembagian, dan partisipasi penuh dengan dunia pada umumnya yang
merupakan suatu syarat untuk kesehatan psikologis. Seseorang yang hanya
mencintai beberapa orang, yang merasakan suatu perasaan persaudaraan dengan
suatu bagian kemanusiaan yang terbatas, tidak sanggup mengembangkan seluruh
potensi manusianya.
4. Perasaan
identitas
Manusia juga membutuhkan suatu
perasaan identitas sebagai individu yang unik, suatu identitas yang
menempatkannya terpisah dari orang-orang lain dalam hal perasannya tentang dia,
siapa dan apa. Cara yang sehat untuk memuaskan kebutuhan ini adalah
individualitas, proses dimana seseorang mencapai suatu perasaan tertentu
tentang identitas diri. Sejauh mana kita masing-masing mengalami suatu perasaan
yang unik tentang diri (selfhood) tergantung pada bagaimana kita berhasil
memutuskan iaktan-ikatan sumbang dengan keluarga, suku, atau bangsa kita.
Orang-orang dengan perasaan individualitas yang berkembang baik mengalami diri
mereka seperti lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri, dan kehidupan mereka
tidak dibentuk oleh orang-orang lain. Dengan cara ini, identitas ditentukan
berdasarkan kualitas-kualitas suatu kelompok, bukan berdasarkan
kualitas-kualitas diri. Dengan melekat pada norma-norma, nilai-nilai, dan tingkah
laku kelompok-kelompok itu, seseorang benar-benar menemukan semacam identitas.
5. Kerangka
orientasi
Dasar yang ideal untuk kerangka
orientasi adalah pikiran, yakni sarana yang digunakan seseorang untuk
mengembangkan suatu gambaran realistis yang objektif tentang dunia. Yang
terkandung dalam hal ini ialah kapasitas untuk melihat dunia (termasuk diri)
secara objektif, untuk menggambarkan dunia dengan tepat dan tidak mengubahnya
dengan lensa-lensa subjektif dari kebutuhan-kebutuhan dan ketakutan-ketakutan
orang sendiri. Fromm sangat mementingkan persepsi objektif tentang kenyataan.
Semakin objektif persepsi kita, semakin juga kita berhubungan dengan kenyataan,
jadi semakin matang dan semakin tangkas pula kita dalam menanggulangi dunia
luar. Pikiran harus dikembangkan dan diterapkan dalam semua segi kehidupan.
Suatu yang kurang ideal dalam membangun suatu kerangka orientasi adalah lewat
irasionalitas. Hal ini, meyangkut suatu pandangan subjektif tentang dunia,
peristiwa-peristiwa, dan pengalaman-pengalaman dilihat tidak menurut apa adanya
tetapi menurut apa yang diinginkan orang terhadapnya. Tentu saja, suatu
kerangka subjektif juga memberikan suatu gambaran dunia. Meskipun kerangka
subjektif mungkin merupakan khyalan tetapi tetap riil bagi individu yang mempertahankannya.
·
Kodrat Manusia yang Sehat. Orang-orang yang demikian mencintai sepenuhnya,
kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati
dunia dan diri secara objektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat,
berhubungan dan berakar dengan dunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib,
dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang.
·
Fromm menyebut kepribadian yang sehat adalah orientasi produktif. Konsep itu
menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia.
Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan
suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan,
renspons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang,
benda-benda, dan peristiwa-peristiwa didunia dan terhadap diri.
·
Menjadi produktif berarti orang menggunakan semua tenaga dan potensinya. Kata
“produktif” mungkin menyesatkan karena kita cenderung memikirkan kata itu dalam
pengertian manghasilkan sesuatu seperti barang-barang material, karya-karya
seni atau ide-ide. Fromm mengartikan kata itu jauh lebih luas daripada ini.
Mungkin berguna kalau memikirkan produktivitas itu sinonim dengan berfungsi
sepenuhnya, mengaktualisasikan diri, mencintai, keterbukaan, dan mengalami.
Orang-orang sehat menciptakan diri mereka dengan melahirkan semua potensi
mereka, dengan menjadi semua menurut kesanggupan mereka, dengan memenuhi semua
kapasitas mereka..
Sumber : all
S. Calvin, dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Sifat dan Behavioristik.
Yogyakarta: Kanisius
Schultz, D. (1991). Psikologi
Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya
: Kanisius
Ø Cirri –ciri kepribadian sehat
sebelum mengulas tentang teori kepribadian dari Fromm, beberapa
pengalaman mempengaruhi pandangan Fromm, antara lain pada umur 12 tahun ia
menyaksikan seorang wanita cantik dan berbakat, sahabat keluarganya, bunuh
diri. Fromm sangat terguncang karena kejadian itu. Tidak ada seorang yang memahami
mengapa wanita tersebut memilih bunuh diri. Ia juga mengalami sebagai anak dari
orangtua yang neurotis. Ia hidup dalam satu rumah tangga yang penuh ketegangan.
Ayahnya seringkali murung, cemas, dan muram. Ibunya mudah menderita depresi
hebat. Tampak bahwa Fromm tidak dikelilingi pribadi-pribadi yang sehat. Karena
itu, masa kanak-kanaknya merupakan suatu laboratorium yang hidup bagi observasi
terhadap tingkah laku neurotis. Peristiwa ketiga adalah pada umur 14 tahun
Fromm melihat irrasionalitas melanda tanah airnya, Jerman, tepatnya ketika
pecah perang dunia pertama. Dia menyaksikan bahwa orang Jerman terperosok ke
dalam suatu fanatisme sempit dan histeris dan tergila-gila. Teman-teman dan
kenalan-kenalannya terpengaruh. Seorang guru yang sangat ia kagumi menjadi
seorang fanatik yang haus darah. Banyak saudara dan teman-temannya yang
meninggal di parit-parit perlindungan. Ia heran mengapa orang yang baik dan
bijaksana tiba-tiba menjadi gila. Dari pengalaman-pengalaman yang membingungkan
ini, Fromm mengembangkan keinginan untuk memahami kodrat dan sumber tingkah
laku irasional. Dia menduga hal itu adalah pengaruh dari kekuatan
sosio-ekonomis, politis, dan historis secara besar-besaran yang mempengaruhi
kodrat kepribadian manusia.
Kepribadian
yang sehat menurut Fromm
kepribadian sehat menurut Eric from adalah penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuahn batin dan tuntutan dari luar dan seseorang menerapkan kerakter sosial untuk memenuhi harapan masyarakat kepribadian sehat juga adanya keinginan untuk mencintai dan di cintai dalam bukunya Art Of Love erik Fromm mengutarakan :
Dalam Civilization and Its Discontents (1930), seperti dikutip oleh Eric Fromm dalam Masyarakat yang Sehat (Terjemahan Thomas Bambang Murtianto, 1995) ia menulis:
“Manusia, setelah menemukan lewat pengalamannya bahwa cinta seksual (genital) memberinya kepuasan puncak, maka makna cinta seksual-genital menjadi prototipe bagi semua bentuk kebahagiaan manusia. Karenanya manusia terdorong mencari kebahagiaan yang ada kaitannya dengan hubungan seks, menempatkan erotisme genital sebagai titik pusat kehidupannya…. Dengan melakukan itu manusia menjadi sangat tergantung pada dunia luar, pada obyek cinta pilihannya, atau sungguh merasa kehilangan bila ditinggal mati atau ditinggal kabur.”
kepribadian yang sehat adalah orientasi produktif. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, renspons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa- peristiwa didunia dan terhadap diri.
Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya. Fromm percaya bahwa semua penemuan dan wawasan yang hebat melibatkan pikiran objektif, dimana pemikir-pemikir didorong oleh ketelitian, dan perhatian untuk menilai secara objektif seluruh masalah.
Kebahagiaan merupakan prestasi (kita) yang paling hebat. Fromm membedakan dua tipe suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Penguasa itu dapat berupa orang tua, Negara, atau suara kelompok lainnya yang mengatur tingkah laku melalui ketakutan orang itu terhadap hukuman karena melanggar kode moral dari penguasa. Suara hati humanistis ialah suara dari diri dan bukan dari suatu perantara dari luar. Pedoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internal dan individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyingkap seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang menghasilkan rasa persetujuan dan kebahagiaan dari dalam. Jadi, kepribadian yang sehat dan produktif memimpin dan mengatur diri sendiri.
kepribadian sehat menurut Eric from adalah penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuahn batin dan tuntutan dari luar dan seseorang menerapkan kerakter sosial untuk memenuhi harapan masyarakat kepribadian sehat juga adanya keinginan untuk mencintai dan di cintai dalam bukunya Art Of Love erik Fromm mengutarakan :
Dalam Civilization and Its Discontents (1930), seperti dikutip oleh Eric Fromm dalam Masyarakat yang Sehat (Terjemahan Thomas Bambang Murtianto, 1995) ia menulis:
“Manusia, setelah menemukan lewat pengalamannya bahwa cinta seksual (genital) memberinya kepuasan puncak, maka makna cinta seksual-genital menjadi prototipe bagi semua bentuk kebahagiaan manusia. Karenanya manusia terdorong mencari kebahagiaan yang ada kaitannya dengan hubungan seks, menempatkan erotisme genital sebagai titik pusat kehidupannya…. Dengan melakukan itu manusia menjadi sangat tergantung pada dunia luar, pada obyek cinta pilihannya, atau sungguh merasa kehilangan bila ditinggal mati atau ditinggal kabur.”
kepribadian yang sehat adalah orientasi produktif. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, renspons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa- peristiwa didunia dan terhadap diri.
Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya. Fromm percaya bahwa semua penemuan dan wawasan yang hebat melibatkan pikiran objektif, dimana pemikir-pemikir didorong oleh ketelitian, dan perhatian untuk menilai secara objektif seluruh masalah.
Kebahagiaan merupakan prestasi (kita) yang paling hebat. Fromm membedakan dua tipe suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Penguasa itu dapat berupa orang tua, Negara, atau suara kelompok lainnya yang mengatur tingkah laku melalui ketakutan orang itu terhadap hukuman karena melanggar kode moral dari penguasa. Suara hati humanistis ialah suara dari diri dan bukan dari suatu perantara dari luar. Pedoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internal dan individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyingkap seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang menghasilkan rasa persetujuan dan kebahagiaan dari dalam. Jadi, kepribadian yang sehat dan produktif memimpin dan mengatur diri sendiri.
Sumber: Schultz, D. (1991). Psikologi
Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya
: Kanisius
Hall, S. (1993). Teori-teori
Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta : Kanisius
Schultz, Duane.
1991. Psikologi Pertumbuhan. Yokyakarta : KANISUS
all S. Calvin, dan Gardner Lindzey.
1993. Teori-Teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta: Kanisius.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar